sudutcatatan
Ada yang menggeliat pada deretan empat kata di atas. Ketika kata “beli” identik dengan konsumerisme, suatu ciri kehidupan orang modern juga buah dari kapitalisme. Saat itulah batas kehidupan bernegara semakin kabur oleh angin pasar bebas. Bicara ekonomi atau perniagaan hanya persoalan untung rugi. Pemodal besar selalu berkuasa. Tidak. Ada bela sebelum beli. Ada bala (kawan) sebelum diri. Begitulah kiranya deretan empat kata di atas mendengung keras di telinga FORNIMAS Forum Niaga Masyarakat.
Deretan orang-orang yang bukan, bukan tuan tanah, bukan pemilik modal besar, bukan pemilik tanda tangan bernilai. Ya… hanya deretan orang-orang penginyongan, deretan orang-orang yang hanya menjadi tontonan saat mencari pembelaan. Maka demi waktu, deret demi deret menggeliat, ada bela sebelum beli, ada bala sebelum diri.
Membela berarti menjadi bala. Bala mengisyaratkan semangat nasionalisme, kedaulatan suatu bangsa dan negara. Ada batas yang jelas siapa membela siapa, mengapa harus dibela, dibela dari apa. Ya membela juga mengisyaratkan ada yang dilawan. Membela adalah melawan. Bela beli bala dewek. Melawan sebuah hegemoni pasar bebas. Suatu sistem yang menjadikannya kabur antara siapa membela siapa. Bela beli bala dewek. Melawan sebuah sikap konsumerisme liberal yang hanya mementingkan kepuasan pribadi tanpa melirik siapa yang memproduksi. Inilah pengejawentahan dari sikap altruisme mutualis. Membeli tidak hanya persoalan pribadi tapi ada himmah untuk membela produk pribumi.
FORNIMAS, Forum Niaga Masyarakat. Sebuah perkumpulan para produsen dan konsumen di kecamatan Pekuncen-Banyumas. Mereka tidak memiliki jabatan strategis di pemerintahan maupun di organisasi besar atau diperusahaan besar. Mereka hanya deretan orang-orang yang bekerja dan berusaha dengan merdeka dari perintah dan larangan. Mereka tak mengenal tuan majikan yang menyisakan buruh dan pekerja. Mereka tak kenal borjuis yang melahirkan proletar. Mereka hanya mengenal produk dan bala. Mereka hanya mengenal beli dan bela. Karena memang mereka hanya deretan, tidak ada atas bawah, tidak ada kanan kiri, hanya deret. Maka demi waktu, deret hanya mengenal deret yang menjadikannya deretan panjang antar nusa dari Sabang sapai Merauke. Itulah Nusantara.
Bela beli bala dewek, semangat Nasionalisme Ekonomi Kerakyatan. Ekonomi Pancasila. Ekonomi Egaliter. Ekonomi yang bukan kanan dan bukan kiri. Bukan atas dan bukan bawah. Ekonomi yang menjadikannya jelas tentang batas sebuah Negeri yang memiliki kedaulatan Bangsa. Indonesia tidak miskin tapi dimiskinkan oleh pasar bebas. Indonesia tidak bodoh, tapi dibodohi sistem globalisasi. Indonesia tidak kurang para produsen dengan maha karya, hanya saja globalisasi menjadikannya buram segalanya. Maka Indonesia hanya butuh melek mata untuk bisa saling membala dan membela dari hegemoni para pemonopoli ekonomi dunia. Ada geliat rupanya pada empat kata di atas. “Bela Beli Bala Dewek”
MAHA EMBUH
Banjaranyar, 18 Agustus 2020